Jurnalistik Islami sebuah Jawaban

melihat begitu dahsyat tipu daya barat terhadap budaya Islam, dalam hal ini lewat media teknologi dan informasi, maka sudah menjadi sebuah kewajiban untuk setiap umat Islam semakin jeli dan kritis dalam menyerap setiap informasi yang datang dari manapun. sebagai jawaban yang paling bagus adalah mengembangkan jurnalistik Islami yang benar-benar kokoh dan kuat. Menjadikan jurnalis Islami sebagai ideologi para penulis muslim demi membela kepentingan umat. Pengertian jurnalistik secara umum adalah proses meliput, mengolah, dan menyebarluaskan peristiwa atau berita atau opini kepada masyarakat luas, maka jurnalistik Islami dapat dimaknai sebagai satu proses peliputan, pengolahan, dan penyebarluasan berbagai peristiwa dengan muatan-muatan Islami, khususnya yang menyangkut agama dan umat Islam kepada khalayak, serta berbagai pandangan dengan perspektif ajaran Islam.

Jurnalis Islami lebih tepat dikatakan sebagai “crusade journalisme”, yaitu jurnalistik yang memperjuangkan nilai-nilai tertentu, yakni nilai-nilai Islami. Jurnalistik Islami mengemban missi amar ma’ruf nahi munkar. karena missi yang diembannya tersebut, maka ciri khas jurnalistik Islami haruslah menyebarluaskan informasi tentang perintah dan larangan Allah SWT. Pesannya haruslah berisi usaha untuk mempengaruhi komunikan agar berperilaku sesuai ajaran Islam.

A. Sebagai Pendidik (Muaddib)

Dalam kaitannya dengan fungsi edukasi yang Islami, harusalah lebih banyak menyodorkan pemberitaan yang lebih membawa muatan kepada ajaran Islam. Mendidik umat Islam agar melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Memikul tugas untuk mencegah umat Islam dan berperilaku yang menyimpang dari syari’at Islam, serta melindungi umat dari pengaruh media massa non-Islami yang anti Islam.

B. Sebagai Musaddid (Pelurus Informasi)

Dalam hal ini, setidaknya ada 3 hal yang harus diluruskan oleh jurnalisme Isla. Pertama, informasi tentang ajaran dan umat Islam. Kedua, informasi tentang karya-karya atau prestasi umat Islam. Ketiga, dituntut mampu menggali, melakukan penelitian tentang kondisi umat Islam di berbagai penjuru dunia. Dalam kaitannya sebagai pelurus informasi ini, jurnalistik Islam dituntut harus mampu mengikis fobia Islam (Islamopobhia) yang merupakan prioduk propaganda pers barat yang anti Islam.

C. Sebagai Mujaddid (Pembaharu)

Pembaharu yang dimaksudkan adalah penyebar paham pembaharuan akan pemahaman dan pengamalan ajaran Islam (reformasi Islam). Jurnalistik Islami haruslah menjadi alat bagi para pembaharu Islam yang menyerukan Islam. Memegang teguh Al-Quran dan As-Sunnah, memurnikan pamahaman tentang Islam dan pengamalannya. Ikut serta sebagai alat memberikan informasi dalam usaha membersihkan ibadah umat dari bid’ah, khurafat, tahayul dan isme-isme asing yang non-Islam , dan menerapkannya dalam segala aspek kehidupan umat.

D. Sebagai Muwahid (Pemersatu)

Dalam menjalankan fungsinya sebagai muwahid ini, dimaksudkan jurnalistik Islam dapat menjadi jembatan yang mempersatukan umat Islam. Jurnalistik Islam harus mampu menerapkan kode etik jurnalistik yang berupa impartiality (tidak memihak pada golongan tertentu) dan mampu menyajikan dua sisi pandang setiap informasi. Jurnalistik Islami harus mampu membuang jauh-jauh sikap sekterian.

E. Sebagai Mujahid (Pejuang)

Dalam fungsinya sebagai pejuang, maksudnya mencoba menampilkan tulisan-tulisan yang berusaha keras membentuk pendapat umum yang mendorong penegakkan nilai-nilai Islam, menyemarakkan syi’ar Islam, mempromosikan syi’ar Islam, mempromosikan citra Islam yang positif dan rahmatan lil ‘alaamin, serta menanamkan ruuhul jihad di kalangan umat.

Published in: on 1 Juli 2009 at 10:10 am  Komentar Dimatikan  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: